BERAS SEGENGGAM: DARI SEGENGGAM BERAS MENJADI PENYELAMAT DI NAGARI PANGIAN
Penulis Muhamad Rizki - Jumat 14 Agustus 2026
Dokumentasi Pengumpulan Beras oleh Mahasiswa KKN Universitas Andalas di Nagari Pangian
Tanah Datar, Jumat 14 Agustus 2026 - Setiap kali hendak memasak nasi, masyarakat Nagari Pangian menyisihkan segenggam beras. Jumlahnya mungkin terlihat kecil, bahkan hampir tidak terasa mengurangi persediaan beras di rumah. Namun ketika segenggam demi segenggam dikumpulkan dari banyak rumah, sesuatu yang jauh lebih besar terbentuk, sebuah gerakan gotong royong yang membantu masyarakat Pangian menghadapi persoalan pendidikan, kesehatan, sosial, hingga bencana.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai Beras Segenggam, sebuah gerakan kemanusiaan yang perlahan tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nagari Pangian. Bagi pemerintah nagari, gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa pembangunan nagari tidak hanya berbicara tentang jalan, infrastruktur, dan berbagai program yang masuk dalam perencanaan pemerintah. Ada persoalan-persoalan masyarakat yang tidak selalu dapat dijawab melalui anggaran nagari, contohnya masyarakat yang sakit tetapi tidak memiliki biaya, anak yatim yang membutuhkan bantuan, hingga anak yang ingin melanjutkan pendidikan sementara kondisi ekonomi keluarganya sedang sulit. Persoalan-persoalan seperti inilah yang kemudian mendorong lahirnya gerakan Beras Segenggam.
Dari Kebiasaan Lama Menjadi Gerakan Bersama
Gagasan Beras Segenggam tidak sepenuhnya merupakan sesuatu yang baru. Dalam ingatan masyarakat, kebiasaan menyisihkan segenggam beras telah lama hidup dalam keseharian masyarakat. Dahulu, ketika hendak memasak, leluhur kita terbiasa menyisihkan sebagian beras untuk dikumpulkan dan nantinya diberikan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk siak yang datang maupun kebutuhan di masjid. Tradisi sederhana tersebut menjadi salah satu inspirasi dalam membangun kembali gerakan Beras Segenggam di Nagari Pangian. Gagasan itu kemudian semakin kuat setelah pemerintah nagari melihat program serupa yang pernah dijalankan di Kota Padang. Dari sana, konsep tersebut diolah dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Pangian.
Toples kemudian dibagikan ke rumah-rumah warga. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai tujuan dan manfaatnya. Para ulama juga dilibatkan untuk memberikan pemahaman keagamaan mengenai pentingnya berbagi, sebelum akhirnya dibentuk relawan yang bertugas mengumpulkan beras dari rumah ke rumah. Pada akhirnya, Beras Segenggam tidak ditempatkan semata-mata program pemerintah. Ia dibangun sebagai tanggung jawab semua elemen masyarakat. Sebuah cara sederhana untuk mengajak setiap keluarga mengambil bagian dalam membantu sesama.
Segenggam yang Berjalan dari Rumah ke Rumah
Mekanisme Beras Segenggam dibangun dengan sederhana. Setiap hari Jumat, para relawan, khususnya ibu-ibu, berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengambil beras yang telah disisihkan masyarakat. Beras tersebut kemudian dikumpulkan dan dikelola sesuai dengan kebutuhan. Sebagian beras disalurkan secara langsung kepada lansia dan masyarakat yang dinilai tidak mampu membeli kebutuhan pangan. Sebagian lainnya dikemas dalam kemasan lima kilogram dengan merek Beras Segenggam. Beras tersebut kemudian dijual dengan harga di bawah harga pasar dan diperuntukkan bagi masyarakat Pangian.
Hasil penjualan inilah yang kemudian dikembangkan untuk membantu berbagai kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Dengan pola tersebut, satu butir beras tidak hanya berhenti sebagai bahan pangan, tetapi berubah menjadi sumber daya yang dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan sosial. Manfaatnya bahkan telah dirasakan dalam situasi-situasi yang tidak terduga. Masyarakat yang harus berobat ke luar daerah dapat memperoleh bantuan untuk biaya pengobatan dan juga transportasi. Selain itu, bagi masyarakat yang belum memiliki BPJS, bantuan dapat diberikan untuk penanganan awal sembari menunggu kepesertaan BPJS. Bagi keluarga kurang mampu yang harus menunggu anggota keluarganya di rumah sakit, bantuan juga diberikan untuk kebutuhan makan. Bahkan ketika terjadi kebakaran hutan, dana tersebut pernah digunakan untuk membantu mobilisasi, makanan, minuman, serta kebutuhan peralatan dalam penanganan di lapangan. Ketika bencana kembali terjadi dan sekitar 30 hektare lahan masyarakat tertimbun batu dan pasir, Beras Segenggam juga menjadi salah satu sumber pembiayaan untuk proses normalisasi.
Tidak Semua yang Memberi Adalah Mampu
Di balik gerakan tersebut terdapat satu kesadaran penting, kemampuan ekonomi setiap keluarga tidak selalu dapat dilihat dari apa yang tampak. Pemerintah nagari tidak menetapkan bahwa seluruh masyarakat harus berkontribusi. Target yang ditetapkan sekitar 50 persen dari keluarga di Pangian. Jika terdapat sekitar 1.000 kepala keluarga, maka sekitar 500 rumah ditargetkan dapat secara rutin mengisi toples Beras Segenggam. Pertimbangannya sederhana. Tidak semua orang yang tidak memberikan beras berarti tidak mampu. Sebaliknya, tidak semua orang yang terlihat mampu benar-benar berada dalam kondisi ekonomi yang baik. Ada masyarakat yang memiliki penghasilan tetap, tetapi harus berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pula orang tua yang harus bertanggung jawab saat anaknya mengalami kesulitan di rantau. Kondisi-kondisi seperti ini tidak selalu terlihat dari luar.
Karena itu, relawan tidak hanya bertugas mengambil beras. Mereka juga menjadi mata dan telinga masyarakat. Dengan berkeliling dari rumah ke rumah, relawan dapat melihat kondisi kehidupan warga dan berkoordinasi dengan kader posyandu maupun kepala jorong apabila menemukan masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Belajar Berbagi dari Segenggam Beras
Beras Segenggam pada akhirnya bukan hanya persoalan mengumpulkan beras. Ada pesan sosial dan nilai kebersamaan yang ingin dibangun melalui gerakan ini. Satu tantangan yang masih dihadapi adalah bagaimana membuat masyarakat memahami bahwa menyisihkan segenggam beras tidak akan membuat persediaan makanan di rumah berkurang secara berarti. Justru dari jumlah yang kecil tersebut, banyak orang lain dapat ikut merasakan manfaat.Segenggam beras dari satu rumah mungkin hanya cukup untuk sedikit kebutuhan. Namun ketika segenggam tersebut datang dari ratusan rumah, jumlahnya berubah menjadi sesuatu yang mampu membantu orang lain. Di dalamnya terdapat lansia yang dapat ikut makan, anak yatim yang dapat terbantu, orang sakit yang sedang menjalani perawatan, hingga mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Karena itu, Beras Segenggam dipandang sebagai cara sederhana untuk membangun kebiasaan berbagi. Masyarakat tidak kehilangan sesuatu yang besar, tetapi bersama-sama menciptakan manfaat yang lebih besar.
Menjaga Kemurnian Sebuah Kebaikan
Dalam perjalanannya, program ini juga tidak sepenuhnya bebas dari tantangan. Ada masyarakat yang belum memahami tujuan program, ada yang menganggapnya sebagai kegiatan politik, bahkan ada pula yang mencurigai bahwa beras yang terkumpul akan dijual untuk kepentingan pribadi. Kekhawatiran tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah nagari untuk menjaga tata kelola dan kemurnian program. Bahkan wali nagari memilih untuk tidak terlalu terlihat dalam proses pengambilan maupun pembagian beras agar gerakan ini tidak melekat pada sosok atau kepentingan politik tertentu.
Harapannya, Beras Segenggam dapat tumbuh sebagai milik bersama masyarakat Pangian, bukan milik pemerintah nagari maupun individu tertentu. Sebuah kebiasaan baik yang dapat terus berjalan meskipun kepemimpinan dan orang-orang di dalam pemerintahan berganti.
Dari Kearifan Lokal Menuju Kekuatan Nagari
Agar keberlangsungannya tidak bergantung pada kesadaran individu semata, Beras Segenggam kini telah memiliki aturan melalui peraturan wali nagari. Pengelolaannya diatur, termasuk pembagian hasil yang dialokasikan untuk masyarakat, pendidikan, kesehatan, sosial, serta kebutuhan relawan yang bertugas mengumpulkan beras dari rumah ke rumah. Langkah tersebut menunjukkan bahwa sebuah kebiasaan sederhana dapat berkembang menjadi sistem sosial yang lebih terorganisasi tanpa kehilangan akar utamanya, gotong royong. Beras Segenggam juga memperlihatkan bahwa pembangunan nagari tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama. Satu keluarga menyisihkan segenggam. Keluarga lain melakukan hal yang sama. Kemudian ratusan keluarga melakukan hal serupa. Dari situlah terkumpul kekuatan untuk membantu mereka yang sedang sakit, mendukung pendidikan anak-anak, memenuhi kebutuhan masyarakat kurang mampu, hingga merespons bencana yang datang tanpa diduga.
"Beras Segenggam bukan sekadar tentang beras. Ia adalah tentang bagaimana masyarakat Pangian menerjemahkan semangat kebersamaan ke dalam tindakan sederhana. Tentang bagaimana setiap rumah dapat mengambil bagian dalam menjaga rumah yang lebih besar bernama nagari. Sebab mungkin, bagi satu keluarga, segenggam beras hanyalah sedikit. Namun ketika dikumpulkan bersama, segenggam demi segenggam dapat menjadi kekuatan untuk membangun manusia, menyelamatkan kehidupan, dan menjaga Nagari Pangian agar tetap tumbuh bersama."