SILEK PANGIAN: KETIKA WARISAN YANG HAMPIR PUNAH KEMBALI MENEMUKAN JALANNYA
Penulis Saidul Aziz Mahendra - Ilmu Politik '23 UNAND - 14 Jumat 2026
Silek PangianĀ yang Merupakan Salah Satu Warisan Budaya Nagari Pangian
Tanah Datar, 14 Agustus 2026 - Sore itu, di sebuah lapangan terbuka di Nagari Pangian, Kabupaten Kuantan Singingi, sekumpulan anak muda berdiri dalam formasi longgar. Kaki mereka bergeser mengikuti pola tertentu, tangan terangkat setengah, mata fokus ke depan. Yang mereka pelajari bukan sekadar gerak bela diri biasa, melainkan sebuah identitas yang nyaris hilang ditelan zaman: Silek Pangian.
Dua bulan lalu, latihan semacam ini adalah sesuatu yang mustahil dibayangkan. Bukan karena tidak ada yang berminat, tapi karena silek ini secara turun-temurun memang tidak pernah diajarkan di ruang terbuka. Ia hidup di sudut dapur, di belakang rumah, diwariskan diam-diam dari mamak ke kemenakan. Kini, cerita itu perlahan berubah.
Jejak yang Berpindah dari Satu Kampung ke Kampung Lain
Menurut penuturan Wali Nagari Pangian dan guru silat nagari pangian, sejarah silek ini bermula dari sepasang suami istri yang sama-sama berstatus pendekar. Sang suami, dalam upayanya memperdalam ilmu, meminta izin sang istri untuk merantau ke kawasan Kuantan Singingi dan berguru kepada pendekar di sana. Namun pencarian itu tak kunjung membuahkan hasil sesuai yang ia harapkan, sehingga ia memilih bertahan lebih lama di tanah rantau.
Waktu berjalan, dan pendekar itu justru dijodohkan dengan anak gurunya di sana, lalu menikah untuknya. Sang istri yang lama tak mendapat kabar akhirnya menyusul ke Kuantan Singingi. Ia diminta pulang lebih dulu oleh suaminya yang mengaku belum menuntaskan pencarian ilmu, namun sang istri justru memohon agar suaminya berhenti mencari dan kembali bersama-sama. Permintaan itu tak pernah terkabul, kenyataannya bahwa suami tersebut telah menikah lagi lebih dulu terungkap, dan sang istri memilih pulang seorang diri dengan hati yang terluka.
Dalam perjalanan pulang itulah sebuah babak baru dimulai. Ia singgah di sebuah kampung untuk beristirahat, dan sebuah peristiwa memaksanya menunjukkan kebolehan silatnya. Warga kampung tersebut kemudian berguru kepadanya, dan ia pun memutuskan menetap di sana. Kampung itulah yang kini dikenal sebagai Kampuang Pangian di kawasan Kuantan Singingi. Dari peristiwa itu, Silek Pangian terbelah menjadi dua aliran: silek pangian jantan dan silek pangian batino-jejak dari dua guru yang berpisah jalan namun mewariskan ilmu yang sama.
Padam, Menyala, Padam Lagi
Silek Pangian sempat benar-benar meredup setelah kedua guru pendirinya wafat. Kebangkitan pertama terjadi pada dekade 1970-an, dipicu peristiwa yang menurut cerita yang beredar di masyarakat cukup memalukan sekaligus menjadi titik balik yaitu seorang perantau asal Pangian yang bekerja di Dharmasraya diperlakukan dengan hormat oleh warga setempat karena namanya disebut sebagai bagian dari aliran Silek Pangian, padahal ia sendiri tidak menguasai ilmu tersebut.
Rasa malu itu justru menjadi pemantik, Ia kemudian berguru kepada Pendekar Darussalam untuk mempelajari Silek Pangian secara sungguh-sungguh. Sekembalinya ke kampung halaman, ceritanya itu menggerakkan warga Pangian untuk menjemput Pendekar Darussalam, bahkan mendatangkan guru-guru lain dari Solok Selatan dan Dharmasraya, agar silat warisan leluhur mereka bisa diajarkan kembali di tanah asalnya.
Namun kebangkitan itu pun tak bertahan selamanya. Perkembangan aliran-aliran silat lain seperti Silek Lintau dan Stralak, yang lebih populer dan mudah diakses, perlahan menggeser posisi Silek Pangian. Jika dulu hampir setiap jorong memiliki sasaran (tempat latihan) silat, Silek Pangian tetap bertahan dalam ruang-ruang privat, diam-diam, tanpa panggung. Hingga hari ini, yang masih memegang teguh warisan ini hanyalah para murid dari generasi yang berguru kepada Pendekar Darussalam pada era 70-an itu.
Ikhtiar Bersama Menghidupkan Kembali Jati Diri
"Pangian itu nama nagari, dan ada namanya Silek Pangian, itu jati diri masyarakat Pangian," demikian inti pesan yang berulang kali ditegaskan Wali Nagari Pangian. Namun kenyataannya, warisan itu nyaris punah. Menyadari hal tersebut, sekitar dua bulan lalu, tokoh masyarakat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, hingga lembaga-lembaga nagari menandatangani komitmen bersama untuk melestarikan dan membangkitkan kembali Silek Pangian.
Langkah pertama adalah membujuk para guru silat yang selama ini enggan mengajar secara terbuka. Pendekatannya sederhana namun mengena: mengapa olahraga bela diri modern seperti karate bisa berkembang pesat, sementara silat tradisional justru terkesan menyeramkan dan tertutup? Dari refleksi itu lahir gagasan untuk mengemas latihan Silek Pangian menjadi lebih menyenangkan dan kini dibuka di ruang terbuka, pada sore dan malam hari, agar terasa akrab bagi generasi muda.
Hasilnya mulai terlihat, sasaran latihan yang dibuka sejak dua bulan lalu berjalan lancar. Pemerintah nagari juga menggandeng Dinas Kebudayaan Provinsi untuk mendapatkan bimbingan teknis (bimtek) yang telah disetujui, serta bekerja sama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas untuk pendokumentasian dan pencatatan sejarah silat ini secara lebih sistematis.
Salah satu ciri khas yang membedakan Silek Pangian dari aliran lain terletak pada pola langkahnya. Aliran ini menggunakan pola langkah 12, yang membuat gerakannya tampak lebih lembut dan mengalir, namun menyimpan daya mematikan di setiap jurusnya, filosofi silat Minangkabau yang mengutamakan kehalusan tanpa mengurangi ketangguhan.
Sosialisasi yang Belum Usai
Meski geliatnya mulai terasa, para penggerak pelestarian ini mengakui bahwa dua bulan perjalanan baru menyentuh tahap sosialisasi. Fokus utama saat ini adalah membangkitkan kembali kebanggaan masyarakat Pangian terhadap warisan leluhurnya, sembari mendorong para niniak mamak untuk mengirimkan anak kemenakan mereka berlatih. Ada semacam "tekanan halus" yang sengaja dibangun, bukan paksaan, melainkan kesadaran kolektif bahwa Silek Pangian penting untuk masa depan generasi berikutnya.
Harapan yang digantungkan tidak berhenti pada sekadar pelestarian gerak silat semata. Masyarakat Pangian membayangkan sebuah masa depan di mana identitas ini menjadi hal pertama yang ingin diketahui pengunjung dari luar daerah ketika menginjakkan kaki di nagari mereka. Lebih jauh, Silek Pangian diharapkan tak hanya menjadi pegangan hidup, tetapi juga bernilai ekonomi, melalui konten digital, penelitian akademis, produk sandang bermotif Silek Pangian, hingga paket wisata berupa pertunjukan atau kursus singkat bagi wisatawan.
Di ujung lapangan sore itu, gerakan langkah 12 terus berulang, ditirukan tubuh-tubuh muda yang baru mengenal iramanya. Sebuah tradisi yang dulu bersembunyi di balik dinding dapur, kini perlahan berani menampakkan diri di ruang terbuka, membawa harapan bahwa jati diri yang nyaris hilang itu akan kembali menjadi kebanggaan yang hidup, bukan sekadar cerita yang dikenang.